Utama » Sejarah Polsek Metro Kelapa Gading

Sejarah Polsek Metro Kelapa Gading

Manusia menciptakan dimensi baru, dimensi budaya, termasuk dimensi tersebut adalah proxemic (penataan dan penggunaan yang sesuai konsep-konsep kebudayaan). Karena hubungan antara manusia dengan dimensi budaya (yaitu lingkungan budaya) merupakan satu kesatuan, maka sebenarnya baik manusia maupun lingkungan sama-sama berpartisipasi dalam saling membentuk satu sama lain.
– Edward T. Hall

Logo Polri dan Polda Metro Jaya

Kelapa Gading merupakan wilayah yang awalnya dikembangkan oleh perusahaan properti Summarecon Agung sejak tahun 1976. Tahun 1970-an, Kecamatan Kelapa Gading masih dikenal sebagai daerah rawa dan persawahan dan termasuk daerah yang rawan.

Sejarah berdirinya Polsek Metro Kelapa Gading seiring dengan pembangunan yang terjadi di wilayah Kelapa Gading. Pada awalnya wilayah ini merupakan wilayah yang sangat rawan dimana saat itu hanya diawasi oleh Pos Polisi Bernis yang masuk dalam sub-ordinasi Polsek Metro Koja. Seiring dengan kebutuhan fasilitas keamanan untuk mengayomi masyarakat dan mendukung pembangunan wilayah, dan besarnya tanggung jawab yang diemban oleh Pos Polisi Bernis juga semakin besar sehingga dirasakan fasilitas sebuah Pos Polisi sudah tidak mencukupi lagi, maka kemudian diresmikanlah Polsek Metropolitan Kelapa Gading.

Kantor Polsek Metropolitan Kelapa Gading yang terletak di Jl. Gading Indah Raya No 1 Kelapa Gading Jakarta Utara diresmikan pada tanggal 10 Juli 1991, dimana tanah dan bangunan tersebut merupakan hibah dari PT.SUMMARECON AGUNG Tbk, yang diwakili oleh Direktur Utamanya kala itu, Bpk. Ir. SUNARDI RUSLI kepada Kepala Kepolisian Sektor Kelapa Gading yang dijabat oleh Bpk. Komisaris Polisi Drs.HERRY ARDIYANTO,M.Si.

Kini Kelapa Gading telah berubah menjadi kawasan hunian sekaligus sentra bisnis yang tertata baik dan berkembang sangat pesat. Bahkan, Pemerintah Jakarta Utara hendak menjadikan Kelapa Gading seperti Singapura karena lengkapnya kebutuhan di wilayah ini, baik dari makanan, tempat tinggal, pakaian, otomotif, film, pendidikan, dan lain-lain.

Sebagai pusat bisnis dan wilayah elit, maka Kelapa Gading sangat munkin untuk menjadi target kejahatan. Ancaman keamaana ini lebih banyak dilakukan oleh pelaku dari luar wilayah. Salah satu tindak kejahatan yang sering terjadi adalah pencurian kendaraan bermotor. Untuk menanggulangi masalah tersebut, mulai pertengahan tahun 2009 ini Kapolsek baru Kelapa gading mencangkan program pengembangan teknologi informasi. Hal ini merupakan salah satu pengejawantahan program “quick win” POLRI. Selain itu diterapkan juga konsep kepolisian modern, antara lain dengan adanya community police (Polisi masyarakat), yang antara lain harus dapat memberikan pelayanan prima, ramah dan benar-benar menjadi pengayom, pelindung dan sahabat masyarakat. Saat ini diwilayah kelapa gading terbentuk 64 polisi Rukun Warga (RW) yang setiap saat siap melayani masyarakat.

Polsek Metro Kelapa Gading telah melalui beberapa peristiwa besar, seperti kerusuhan tahun 1998, banjir tahun 2002 dan 2007. Pada peristiwa 1998 sebagian besar wilayah Jakarta terkena dampak kerusuhan, dan Kelapa Gading merupakan salah satu “target empuk” penjarahan, tetapi Polsek Metro Kelapa Gading telah berhasil mengamankan wilayahnya dengan baik. Ketika terjadi peristiwa banjir besar tahun 2002 dan 2007 Polsek Metro Kelapa Gading bahu-membahu dengan masyarakat dalam suasana kekompakan, melakukan evakuasi dan pengamanan wilayah serta berperan serta dalam memulihkan dampak banjir tersebut. Dan hingga saat ini dan yang akan datang pun Polsek Metro Gading akan terus menjadi bagian masyarakat dan kebanggaan masyarakat.

Sejak kepemimpinan Kapolsek yang keempatbelas, dilakukan perubahan yang signifikan terhadap sistem kerja pelayanan kepada masyarakat. Diantaranya estetika kantor pelayanan, penggunaan teknologi informasi, dan peningkatan respon dalam pelayanan terhadap masyarakat.

patroli-sedan

  • Share/Bookmark

Komentar ditutup.